Home » Type » Fiction » I’m sorry

clipper-banner
Our Reader Score
[Total: 7    Average: 2.7/5]

Namaku Eric, ini ceritaku bersama pacarku beberapa taun yang lalu.

Semua berawal dari aku mengenalnya ketika di sekolah. Dia gadis yang sangat cantik dengan warnakulitnya yang putih dan rambutnya yang hitam panjangnya sepunggung.  Aku sangat mencintaimya begitu juga dirinya padaku. Suatu hari, aku merasa bosan dengannya sehingga aku memutuskan untuk break sejenak dengannya. Saat itu aku sedang di landa masalah. Aku pergi dari rumah dan bolos sekolah.  Aku ingin bersenang-senang untuk melupakan masalahku, tetapi aku sial. Pihak sekolah mengetahuinya.

Besok paginya, kepala sekolahku memanggilku, dia memberiku surah keputusan yang tertulis keputusan scorsing. Ya ini hal yang sudah biasa aku alami. Ketika sampai di rumah aku mendengar suara orang tuaku sedang bertengkar. Oh sial! Mereka sudah bercerai tanpa sepengetahuanku. Mereka membuatku gila. Aku masuk ke rumah tanpa memperdulikam mereka dan segara masuk ke kamarku. Mereka masih berdebat merebutkah hak asuhnya. Kenapa ini terjadi padaku.

Beberapa bulan kemudian setelah mereka bercerai aku tetap tinggal bersama ibuku, dia sering membawa masuk laki-laki lain setiap harinya ke rumah dan sering mabuk. Hidupku semakin buruk. Hubunganku dengan Tria pacarku mulai renggang mungkin karena aku terlalu sibuk mencari kesenanganku sendiri.

Tiba-tiba Tria menelfonku dan dia ingin menemuiku sekarang. Dia ingin bertemu di tempat yang sepi dan tak banyak orang. Aku mengikuti kemauanya. Setelah kami bertemu aku melihatnya bersedih. Aku mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi. Dia terus menangis dan menangis semakin keras. Aku memulai menceritakan masalahku padanya yang sebelumnya dia tidak tau. Dia tampak shock mendengar ceritaku. Mungkin dia baru tau kenapa aku sedikit cuek sekarang. Tetapi itu justru membuatnya semakin keras menangis.

“Aku merasa bersalah denganmu Ric, aku sunggu hina dimatamu sekarang.”

“Apa maksudnya? Kenapa? ” aku bertanya

” aku.. mengandung… anak Sam. Maafkan aku Eric”

“APA??!!! apa maksudmu?”

Dia menangis keras.Kata-katanya seakan menghancurkan hatiku. Semuanya hancur. Aku mengguncang bahunya kemudian memukulnya. Aku tak tau harus berbuat apa lagi. Aku meninggalkanya begitu saja. Kepalaku terasa berat semua masalah ada di dalamnya.

Setelah sampe di kamarku aku membuang semua tentang Tria. Sungguh aku membencinya. Aku berusaha mengembalikan emosiku. Aku menatap diriku di kaca kamar mandi. Kau bukanlah lelaki yang beruntung. Kau memang tampan bahkan sangat tampan tetapi hidupmu tak seindah wajahmu. Aku tertunduk dan membuka laci meja, aku mengambil clipper dengan penjagaan 2 mungkin dengan membuang sebagian besar rambutku dapat membuang sedikit bebanku. Aku menyalakanya dan perlahan menempelkannya di dahiku kemudian mendorongnya ke tengkukku dan aku mengulanginya berkali-kali di jalur yang berbeda. Beberapa menit kemudian semua rambutku telah terpotong sama panjang. Ya, sekarang aku hampir botak hanya tersiaa beberapa mm diatas kepalaku. Aku merasa kepalaku lebih ringan sekarang. Aku mengusap kepalaku beberapa kali untuk menjatuhkan sisa-sisa rambut yang terpotong di atas kepalaku. Tiba-tiba ada suara seseorang mengetuk pintu kamarku dengan cepat aku membukanya.

Dia.Tria. entah apa yang membuatnya datang menemuiku dia tampak shock melihat tampilan baruku.

“Apa yang terjadi? Kamu memotong semua rambutmu? ”

“apa urusanmu? Pergilah aku tidak ingin melihatmu disini”

Dia berusaha meminta maaf. Dia berlutut di depanku agar aku memaafkan dia. Aku tidak bisa menahannya. Aku tidak tega. Tetapi aku masih enggan untuk menerimanya kembali. Tiba-tiba dia masuk ke kamarku dan mengambil gunting, lalu dia menggunting rambut panjangnya menjadi sebahu, kemudian dia menangis. Dia bilang ini adalah tanda rasa bersalahnya. Akhirnya aku memaafkannya dan merapikan rambutnya. Aku memotongnya menjadi bob pendek sedagu. Aku begitu mencintainya. Dia tampam seksi dengan rambut pendek mungkin suatu hari nanti aku akan mencukur semua rambutnya atau hanya memberinya potongan pixie super pendek.

Leave a Reply

clipper-banner